PLN Peduli Beri Bantuan Operasi Bibir Sumbing bagi Warga Kurang Mampu

banner 120x600
banner 468x60

garapnews.com-Pekanbaru-Senyum Sulinda Putri dan Tengku Keisya Amri sudah kembali terkembang. Sebelumnya, Sulinda Putri, gadis manis penuh semangat berusia 12 tahun harus menjalani hari-hari yang sangat berat. Ia mengalami kesulitan berbicara, sulit makan dan minum lantaran Putri–panggilannya–menderita bibir sumbing kategori berat, di mana celahnya sampai ke langit-langit mulut, 17/03/2023.

Karena penyakit ini, tampilan wajah dan giginya pun menjadi tidak normal. Hal ini juga menjadikan dirinya tak punya rasa percaya diri. Bahkan, ia juga tersisih dari teman-teman di sekolahnya. Apalagi, terdapat stigma yang salah di masyarakat bahwa penyakit ini terkadang dipandang sebagai aib yang mendatangkan rasa malu bagi keluarga, orang tua dan penderita sendiri.

banner 325x300

Ditambah dengan keterbatasan akses ke layanan kesehatan yang tak memadai, menjadikan penyakit ini jadi semacam kutukan bagi anak-anak tak berdosa. Tak ayal mereka yang menderita penyakit ini bisa merasakan penderitaan seumur hidup.

Tak ada yang bisa dilakukan orang tua Putri. Orang tua Putri yang berprofesi sebagai petani hanya bisa fokus untuk memberi nafkah bagi 6 anggota keluarga saja. Ia tak punya uang sisa yang bisa disisihkan untuk keperluan operasi putri tercintanya.

Orang tua Putri juga tak punya uang untuk mengakses informasi maupun fasilitas kesehatan. Keluarga yang berasal dari Bagan Sinembah Barat-Rokan Hilir ini butuh waktu 3 jam untuk sampai ke Kota Bagan Batu atau 8 jam ke kota Pekanbaru. Jadilah Putri, selama 12 tahun hidupnya terkungkung dengan penyakitnya.

Kondisi yang sama juga dialami oleh Keisya, panggilan dari Tengku Keisya Amri. Bayi mungil berusia 6 bulan dari pasangan Tengku Amri dan Juliana Tambunan, warga Bagan Batu Kota ini juga menderita penyakit sumbing kategori berat. Kesulitan biaya, kesulitan transportasi dan akomodasi yang jauh ke kota Pekanbaru menyebabkan sang bayi sampai saat ini masih belum mendapatkan tindakan medis yang dibutuhkan.

Padahal, kedua orang tua mereka sadar betul bahwa tindakan operasi yang cepat akan memberikan peluang sembuh yang lebih besar bagi bayinya. Tindakan operasi juga bisa menyelamatkan Keisya.

Untunglah penderitaan kedua gadis ini akan segera berakhir. Kondisi kedua anak manis ini terpantau oleh tim PLN Peduli PLN UID Riau dan Kepri. Dengan gerak cepat dan koordinasi seperlunya, kedua gadis ini dijemput langsung oleh tim PLN ke tempat kediaman masing-masing. Dia beserta keluarganya kemudian dibawa ke kota Pekanbaru untuk menjalani operasi bibir sumbing dan celah langit-langit di RS Aulia Hospital Pekanbaru.

Keesokan harinya, Rabu 15 Maret 2023 operasi berhasil dilaksanakan. Pun operasinya berjalan dengan sukses. Kini kedua anak ini tengah menjalani masa pemulihan dan observasi dari tim dokter RS Aulia Hospital.

Agung Murdifi, General Manager PLN UID Riau dan Kepri sekaligus penggagas aksi solidaritas ini mengatakan, operasi ini adalah operasi kemanusiaan, bentuk kepedulian PLN terhadap warga masyarakat tidak mampu yang membutuhkan. Kegiatan ini juga sebagai wujud dari komitmen PLN dalam mendukung program pemerintah untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan.

“Kegiatan bakti sosial ini merupakan bentuk dari aksi solidaritas yang dilakukan oleh PLN bekerjasama dengan Rumah Sakit Aulia Hospital Pekanbaru dan Smile Train Indonesia. Alhamdulillah semoga operasi ini bisa berjalan lancar dan kami mendoakan semoga ananda Putri dan Keisya segera pulih kembali pasca operasi serta dapat segera melakukan aktivitas seperti sedia kala,” tutur Agung.

Agung menambahkan, dalam menjalankan kegiatan usahanya, PLN tidak hanya berorientasi pada kegiatan bisnis saja, tetapi terus berkontribusi pada kehidupan masyarakat melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. “Kami akan terus melanjutkan program TJSL ini untuk dapat memberikan manfaat dan bisa berkontribusi bagi masyarakat,” papar Agung.

PLN melibatkan banyak pihak seperti YBM PLN, PLN Peduli, PIKK PLN UID Riau dan Kepri dan RS Aulia Hospital Pekanbaru selaku mitra penting dalam menjalankan aksi ini. “Operasi ini seratus persen gratis, biaya yang timbul seperti biaya transportasi, akomodasi dan tindakan medis selama operasi dan pasca operasi ditanggung bersama oleh semua pihak yang terlibat, khususnya YBM PLN dan RS Aulia Hospital Pekanbaru”, kata Agung.

“Ke depan kami akan melanjutkan kegiatan ini dengan target lebih banyak lagi yang terbantu untuk warga tidak mampu. Kami terus membuka diri dan mengajak partisipasi semua pihak yang memiliki sumber daya untuk berkolaborasi meringankan beban penderitaan warga tidak mampu,” tutup Agung.

Ucapkan Terima Kasih

Adiono, ayah Putri mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga kepada PLN dan RS Aulia Hospital beserta semua pihak yang telah berkontribusi untuk kesembuhan putrinya dan Keisya. Ia punya harapan besar, Putri dan Keisya bisa hidup normal di hari-hari ke depan; berbicara normal, makan dan minum normal seperti orang normal lainnya.

Akan ada senyum manis dari Putri dan Keisya yang terkembang. “Kami terharu, pertama kali kami ditawarkan bantuan ini kami menyangka hanya angin surga atau janji-janji seperti biasa,” katanya.

“Setelah kami dijemput langsung dari rumah oleh tim PLN Peduli, diinapkan di hotel di Bagan Batu kemudian dibawa ke Pekanbaru, barulah kami yakin betul bahwa ini rejeki anak kami menuju kesembuhan. Semoga Allah selalu memberi keberkahan bagi Pegawai PLN dan keluarganya serta Pihak Aulia Hospital dan Smile Train Indonesia,” tambahnya dengan nada haru.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *